ceritanya puciang... setelah sekian lama ga nge blog, dan sebelumnya hanya bahas soal telekomunikasi akhirnya gw putusin mo ganti nama blog dan thema nya... kepikiran ganti nuansa alam dan teknologi... oiyaa nama blog sebelumnya http://rodo-heweh.blogspot.co.id akhirnya gw musnahkan setelah 10 tahun ngeblog dan ga gw update hahaha... ya gimana lagi udah ke maintain euyy... udah getu aja... see ya next time
My Village and Big City
ketika alam, teknologi dan modernisasi semakin menggila, manusia harus bijak dan seimbang seperti halnya desa dan kota yang saling melengkapi..
Saturday, March 18, 2017
Tuesday, March 23, 2010
Redaman dan Dispersi: Parameter Budget Link Transmisi NGN
Permasalahan redaman dan dispersi mempunyai hubungan yang erat dengan penentuan jenis kabel optik yang akan digunakan dalam perencanaan jaringan transmisi NGN (SDH). Hal ini juga berkaitan dengan penentuan panjang gelombang yang digunakan pada tiap-tiap kabel optik.
Dalam perkembangan dan trend teknologi NGN, Teknologi SDH memiliki Kemampuan delivery bandwidth yang cukup besar, saat ini mencapai STM-64 (10 Gbps). Kemampuan yang besar ini juga diikuti dengan resiko hilangnya informasi yang cukup besar pada saat performansi jaringan turun dibawah standar atau terjadi jaringan failure. Hal ini tentu tidak dikehendaki oleh operator, karena terjadinya failure atau turunnya performansi jaringan juga berarti hilangnya pendapatan dan kesempatan. Untuk itu jaringan transmisi ini harus memiliki kehandalan dan performansi yang baik dengan menerapkan standar performansi dan proteksi yang sesuai. Dua diantara parameter-parameter yang penting pada jaringan transmisi NGN yang menggunakan media fiber optik adalah redaman dan dispersi.
Permasalahan redaman dan dispersi mempunyai hubungan yang erat dengan penentuan jenis kabel optik yang akan digunakan dalam perencanaan jaringan transmisi SDH. Hal ini juga berkaitan dengan penentuan panjang gelombang yang digunakan pada tiap-tiap kabel optik
A. Redaman
Menurut rekomendasi ITU-T G.0653E, kabel serat optik harus mempunyai koefisien redaman 0.5 dB/km untuk panjang gelombang 1310 nm dan 0.4 dB/km untuk panjang gelombang 1550 nm. Tapi besarnya koefisien ini bukan merupakan nilai yang mutlak, karena harus mempertimbangkan proses pabrikasi, desain & komposisi fiber, dan desain kabel. Untuk itu terdapat range redaman yang masih diijinkan yaitu 0.3-0.4 dB/km untuk panjang gelombang 1310 nm dan 0.17-0.25 dB/km, untuk panjang gelombang 1550. Selain itu, koefisien redaman mungkin juga dipengaruhi spektrum panjang gelombang yang diperoleh dari hasil pengukuran pada panjang gelombang yang berbeda.
Secara sederhana, maka besarnya redaman (l) pada section kabel dapat dirumuskan sebagai berikut :

dimana,
an = koefisien redaman fiber ke-n dalam elementary cable section;
Ln = panjang fiber ke-n;
m = jumlah total concatenated fiber dalam elementary cable section;
as = mean splice loss;
c = jumlah splices dalam elementary cable section;
ac = mean loss of line connectors;
y = jumlah line connectors dalam elementary cable section (jika tersedia).
Pemberian parameter-parameter ini harus dialokasikan untuk margin kabel yang sesuai dengan modifikasi disain implementasi kabel (additional splices, extra cable lengths, ageing effects, temperature variations, dan lain-lain). Perumusan di atas belum mempertimbangkan faktor loss perangkat konektor. Maksudnya adalah loss yang digunakan untuk splice dan konektor.

Gambar 1. Spektrum Fiber Optik (Redaman, Dispersi dan Panjang Gelombang)
Sumber:3rd Annual SDH & WDM Optical Networking Conference,1999
B. Dispersi Kromatis
Dispersi adalah peristiwa pelebaran pulsa yang disebabkan oleh keterbatasan material dan efek linear seperti polarisasi, material dan lainnya. Faktor dispersi ini akan mempengaruhi kualitas sinyal yang akan ditransmisikan dalam jaringan. Salah satu dispersi yang paling dominan dalam jaringan optik adalah dispersi kromatis.
Koefisien dispersi kromatik harus mempertimbangkan beberapa faktor sebagai berikut :
– Range panjang gelombang yang didijinkan yaitu l0min = 1300 nm and l0max = 1324 nm;
– Nilai slope maksimum yang diijinkan yaitu S0max = –0.093 ps/(nm2 • km)
Batasan koefisien dispersi kromatik untuk rentang panjang gelombang 1260-1360 nm dapat dirumuskan sebagai berikut :

Catatan :
– Besarnya l0min, l0max dan S0max untuk koefisien dispersi magnitudes D1 and D2 sama atau lebih kecil dengan koefisien dispersi kromatik seperti dalam tabel:
Tabel 1. Besarnya koefisien dispersi kromatik terhadap panjang gelombang

– Pergunakanlah besaran D1(l) di atas untuk mendapatkan estimasi dispersi maksimum pada panjang gelombang 1550 nm.
– Untuk kapasitas dan sistem yang besar, mungkin lebih sesuai menggunakan range yang lebih rendah l0min, l0max, atau nilai S0max lebih kecil.
– Untuk pengukuran koefisien dispersi kromatik pada single mode fibre untuk routine basis tidak diperlukan.
C. Perkiraan Budget Link
Parameter redaman dan dispersi merupakan parameter penting yang digunakan dalam perhitungan Budget Link transmisi NGN. Berdasarkan kedua parameter itu dan beberapa koefisien lainnya, seorang perencana jaringan yang melakukan perhitungan perkiraan budget link dapat menghitung nilai Daya transmit dan daya penerima sistem transmisi dan menyesuaikan disain agar dapat memenuhi kebutuhan standar daya di sisi penerima.
C.1 Batas Minimum
Batas minimum : merupakan harga terbaik yang didapat sesuai dengan perhitungan secara teoritis. Rumus yang digunakan :
Dengan menggunakan asumsi redaman kabel sebagai berikut:
1,3 µm : a = 1 dB + 0,39 dB / km 1,55 µm : a = 1 dB + 0,24 dB / km
Maka untuk batas minimum, misal untuk interface STM-16 pada tabel 3 akan didapat nilai jarak tempuh sinyal sebagai berikut;
C.2 Batas Maksimum
Batas maksimum : merupakan harga terburuk yang masih perlu dipertimbangkan. Rumus yang digunakan adalah:

Dengan menggunakan asumsi sebagai berikut:
1,3 µm : a = 1 dB + 0,39 dB / km 1,55 µm : a = 1 dB + 0,24 dB / km
Maka untuk batas maksimum, misal untuk interface STM-16 pada tabel 3 akan didapat nilai jarak tempuh sinyal sebagai berikut;

Gambar 2. Path dan Section (link Point-to-Point)
Sistem SDH eksisting saat ini yang umumnya ada di jaringan telekomunikasi di Indonesia adalah mengacu pada standard internasional rekomendasi ITU-T. Untuk jenis antarmuka optik, rekomendasi ITU-T yang sesuai adalah rekomendasi ITU-T Seri. G.957. Didalam rekomendasi ITU-T seri G.957 telah diatur seperti tabel dibawah ini.
Tabel 2. Klasifikasi Antar Muka Optik dan Kode Aplikasinya sesuai ITU-T seri G.957
Dalam tabel diatas sesuai ITU-T seri G.957 tersebut telah diatur kode aplikasi dari antarmuka optik dengan L x y. Dimana L adalah aplikasi, x adalah level STM-N dan y adalah jenis sumber panjang gelombang,
Tabel 3. Persyaratan Antarmuka Optik STM-16 sesuai ITU-T seri G.957
C.3 Pengaruh Dispersi Kromatis
Untuk menganalisa pengaruh dispersi kromatis pada link budget, berikut dibawah ini sebuah contoh perhitungan untuk tujuan yang dimaksud.
Nilai dispersi kromatis untuk dua tipe kabel yang ada adalah sebagai berikut:
1. 1,3 µm : 2,5 ps/nm/km
2. 1,55 µm : : 19 ps/nm/km
Maka jarak tempuh sinyal untuk interface STM-16, yang diperhitungkan dengan menggunakan perhitungan dispersi kromatis adalah sebagai berikut:
Dengan melakukan analisa perhitungan diatas dan berbagai asumsi yang dibuat, maka didapat range jarak tempuh sinyal yang dimiliki oleh interface STM-16
Tabel 4. Range Jarak Tempuh Sinyal Interface STM-16
Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas, maka redaman dan dispersi mempunyai hubungan yang erat dengan penentuan jenis kabel optik yang akan digunakan dalam perencanaan jaringan transmisi NGN (SDH). Hal ini juga berkaitan dengan penentuan panjang gelombang yang digunakan pada tiap-tiap kabel optik. Parameter redaman dan dispersi merupakan parameter penting yang digunakan dalam perhitungan Budget Link transmisi NGN
Akhmad Ludfy, Penulis adalah salah seorang engineer lab transport – TELKOM RisTI- PT TELKOM yang terlibat dalam kegiatan assessment teknologi jaringan transport, khususnya jaringan optik dan jaringan data. Dilibatkan dalam beberapa proyek antara lain: strategi Implementasi softswitch TELKOM, Penyusunan Standard System dan Rilis Teknologi Softswitch.
Referensi:
1. Akhmad Ludfy, Mustapa W, WDM Menuju Jaringan Masa Depan, Lab Transport DIVRisTI, Bandung-Indonesia, Tahun 1999
2. Mike Sexton & Andy Reid, Transmission Networking: SONET and The Synchronous Digital Hierarchy, Artech House Boston London, 1992.
3. Riset Strategi Evolusi PSTN Ke NGN, 2002, RisTI-ITB
4. Long Term Network Configuration Project, TELKOM-Sofrecom.
5. Norio Kashima, Optical Transmission for the Subsriber Loop, Artech House Boston London, 1993.
6. Fujitsu, White Paper Wave Division Multiplexing, Fujitsu Network Communications Inc.
7. Dokumen 3rd Anuual SDH & WDM Optical Networking Conference,1999
Dalam perkembangan dan trend teknologi NGN, Teknologi SDH memiliki Kemampuan delivery bandwidth yang cukup besar, saat ini mencapai STM-64 (10 Gbps). Kemampuan yang besar ini juga diikuti dengan resiko hilangnya informasi yang cukup besar pada saat performansi jaringan turun dibawah standar atau terjadi jaringan failure. Hal ini tentu tidak dikehendaki oleh operator, karena terjadinya failure atau turunnya performansi jaringan juga berarti hilangnya pendapatan dan kesempatan. Untuk itu jaringan transmisi ini harus memiliki kehandalan dan performansi yang baik dengan menerapkan standar performansi dan proteksi yang sesuai. Dua diantara parameter-parameter yang penting pada jaringan transmisi NGN yang menggunakan media fiber optik adalah redaman dan dispersi.
Permasalahan redaman dan dispersi mempunyai hubungan yang erat dengan penentuan jenis kabel optik yang akan digunakan dalam perencanaan jaringan transmisi SDH. Hal ini juga berkaitan dengan penentuan panjang gelombang yang digunakan pada tiap-tiap kabel optik
A. Redaman
Menurut rekomendasi ITU-T G.0653E, kabel serat optik harus mempunyai koefisien redaman 0.5 dB/km untuk panjang gelombang 1310 nm dan 0.4 dB/km untuk panjang gelombang 1550 nm. Tapi besarnya koefisien ini bukan merupakan nilai yang mutlak, karena harus mempertimbangkan proses pabrikasi, desain & komposisi fiber, dan desain kabel. Untuk itu terdapat range redaman yang masih diijinkan yaitu 0.3-0.4 dB/km untuk panjang gelombang 1310 nm dan 0.17-0.25 dB/km, untuk panjang gelombang 1550. Selain itu, koefisien redaman mungkin juga dipengaruhi spektrum panjang gelombang yang diperoleh dari hasil pengukuran pada panjang gelombang yang berbeda.
Secara sederhana, maka besarnya redaman (l) pada section kabel dapat dirumuskan sebagai berikut :

dimana,
an = koefisien redaman fiber ke-n dalam elementary cable section;
Ln = panjang fiber ke-n;
m = jumlah total concatenated fiber dalam elementary cable section;
as = mean splice loss;
c = jumlah splices dalam elementary cable section;
ac = mean loss of line connectors;
y = jumlah line connectors dalam elementary cable section (jika tersedia).
Pemberian parameter-parameter ini harus dialokasikan untuk margin kabel yang sesuai dengan modifikasi disain implementasi kabel (additional splices, extra cable lengths, ageing effects, temperature variations, dan lain-lain). Perumusan di atas belum mempertimbangkan faktor loss perangkat konektor. Maksudnya adalah loss yang digunakan untuk splice dan konektor.

Gambar 1. Spektrum Fiber Optik (Redaman, Dispersi dan Panjang Gelombang)
Sumber:3rd Annual SDH & WDM Optical Networking Conference,1999
B. Dispersi Kromatis
Dispersi adalah peristiwa pelebaran pulsa yang disebabkan oleh keterbatasan material dan efek linear seperti polarisasi, material dan lainnya. Faktor dispersi ini akan mempengaruhi kualitas sinyal yang akan ditransmisikan dalam jaringan. Salah satu dispersi yang paling dominan dalam jaringan optik adalah dispersi kromatis.
Koefisien dispersi kromatik harus mempertimbangkan beberapa faktor sebagai berikut :
– Range panjang gelombang yang didijinkan yaitu l0min = 1300 nm and l0max = 1324 nm;
– Nilai slope maksimum yang diijinkan yaitu S0max = –0.093 ps/(nm2 • km)
Batasan koefisien dispersi kromatik untuk rentang panjang gelombang 1260-1360 nm dapat dirumuskan sebagai berikut :

Catatan :
– Besarnya l0min, l0max dan S0max untuk koefisien dispersi magnitudes D1 and D2 sama atau lebih kecil dengan koefisien dispersi kromatik seperti dalam tabel:
Tabel 1. Besarnya koefisien dispersi kromatik terhadap panjang gelombang

– Pergunakanlah besaran D1(l) di atas untuk mendapatkan estimasi dispersi maksimum pada panjang gelombang 1550 nm.
– Untuk kapasitas dan sistem yang besar, mungkin lebih sesuai menggunakan range yang lebih rendah l0min, l0max, atau nilai S0max lebih kecil.
– Untuk pengukuran koefisien dispersi kromatik pada single mode fibre untuk routine basis tidak diperlukan.
C. Perkiraan Budget Link
Parameter redaman dan dispersi merupakan parameter penting yang digunakan dalam perhitungan Budget Link transmisi NGN. Berdasarkan kedua parameter itu dan beberapa koefisien lainnya, seorang perencana jaringan yang melakukan perhitungan perkiraan budget link dapat menghitung nilai Daya transmit dan daya penerima sistem transmisi dan menyesuaikan disain agar dapat memenuhi kebutuhan standar daya di sisi penerima.
C.1 Batas Minimum
Batas minimum : merupakan harga terbaik yang didapat sesuai dengan perhitungan secara teoritis. Rumus yang digunakan :
Dengan menggunakan asumsi redaman kabel sebagai berikut:
1,3 µm : a = 1 dB + 0,39 dB / km 1,55 µm : a = 1 dB + 0,24 dB / km
Maka untuk batas minimum, misal untuk interface STM-16 pada tabel 3 akan didapat nilai jarak tempuh sinyal sebagai berikut;
C.2 Batas Maksimum
Batas maksimum : merupakan harga terburuk yang masih perlu dipertimbangkan. Rumus yang digunakan adalah:

Dengan menggunakan asumsi sebagai berikut:
1,3 µm : a = 1 dB + 0,39 dB / km 1,55 µm : a = 1 dB + 0,24 dB / km
Maka untuk batas maksimum, misal untuk interface STM-16 pada tabel 3 akan didapat nilai jarak tempuh sinyal sebagai berikut;

Gambar 2. Path dan Section (link Point-to-Point)
Sistem SDH eksisting saat ini yang umumnya ada di jaringan telekomunikasi di Indonesia adalah mengacu pada standard internasional rekomendasi ITU-T. Untuk jenis antarmuka optik, rekomendasi ITU-T yang sesuai adalah rekomendasi ITU-T Seri. G.957. Didalam rekomendasi ITU-T seri G.957 telah diatur seperti tabel dibawah ini.
Tabel 2. Klasifikasi Antar Muka Optik dan Kode Aplikasinya sesuai ITU-T seri G.957
Dalam tabel diatas sesuai ITU-T seri G.957 tersebut telah diatur kode aplikasi dari antarmuka optik dengan L x y. Dimana L adalah aplikasi, x adalah level STM-N dan y adalah jenis sumber panjang gelombang,
Tabel 3. Persyaratan Antarmuka Optik STM-16 sesuai ITU-T seri G.957
C.3 Pengaruh Dispersi Kromatis
Untuk menganalisa pengaruh dispersi kromatis pada link budget, berikut dibawah ini sebuah contoh perhitungan untuk tujuan yang dimaksud.
Nilai dispersi kromatis untuk dua tipe kabel yang ada adalah sebagai berikut:
1. 1,3 µm : 2,5 ps/nm/km
2. 1,55 µm : : 19 ps/nm/km
Maka jarak tempuh sinyal untuk interface STM-16, yang diperhitungkan dengan menggunakan perhitungan dispersi kromatis adalah sebagai berikut:
Dengan melakukan analisa perhitungan diatas dan berbagai asumsi yang dibuat, maka didapat range jarak tempuh sinyal yang dimiliki oleh interface STM-16
Tabel 4. Range Jarak Tempuh Sinyal Interface STM-16
Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas, maka redaman dan dispersi mempunyai hubungan yang erat dengan penentuan jenis kabel optik yang akan digunakan dalam perencanaan jaringan transmisi NGN (SDH). Hal ini juga berkaitan dengan penentuan panjang gelombang yang digunakan pada tiap-tiap kabel optik. Parameter redaman dan dispersi merupakan parameter penting yang digunakan dalam perhitungan Budget Link transmisi NGN
Akhmad Ludfy, Penulis adalah salah seorang engineer lab transport – TELKOM RisTI- PT TELKOM yang terlibat dalam kegiatan assessment teknologi jaringan transport, khususnya jaringan optik dan jaringan data. Dilibatkan dalam beberapa proyek antara lain: strategi Implementasi softswitch TELKOM, Penyusunan Standard System dan Rilis Teknologi Softswitch.
Referensi:
1. Akhmad Ludfy, Mustapa W, WDM Menuju Jaringan Masa Depan, Lab Transport DIVRisTI, Bandung-Indonesia, Tahun 1999
2. Mike Sexton & Andy Reid, Transmission Networking: SONET and The Synchronous Digital Hierarchy, Artech House Boston London, 1992.
3. Riset Strategi Evolusi PSTN Ke NGN, 2002, RisTI-ITB
4. Long Term Network Configuration Project, TELKOM-Sofrecom.
5. Norio Kashima, Optical Transmission for the Subsriber Loop, Artech House Boston London, 1993.
6. Fujitsu, White Paper Wave Division Multiplexing, Fujitsu Network Communications Inc.
7. Dokumen 3rd Anuual SDH & WDM Optical Networking Conference,1999
Thursday, June 19, 2008
Bluetooth A2DP

beberapa waktu lalu teknologi Bluetooth hanya dianggap sebagai alternatif pemindah data serta berfungsi sebagai perantara. Sebab waktu dengan menggunakan bluetooth jauh lebih mudah dan tak merepotkan. Maka bluetooth sering dipakai untuk bertukar foto, phonebook, pun sejumlah data lain dalam teknologi ponsel. Untuk hal ini Bluetooth hanya dimanfaatkan layer datanya saja.
Dengan model serupa bluethoot juga bisa dikreasikan sebagai jalur untuk melakukan chatting. Masalahnya, ngobrol maya ini hanya bisa dilakukan dalam jarak pendek, sesuai dengan daya jangkau Bluetooth itu sendiri. Karena itulah pemanfaatan Bluetooth seperti ini jadi kurang populer. Perkembangan teknologi Bluetooth yang kini sampai pada versi 2.0 A2DP (Advance Audio Distribution Profile)memaksa pencipta tidak hanya memanfaatkannya sebagai jalur penghubung ponsel ke headset dengan memanfaatan layer suara (voice).

Namun tampaknya penggunaan layer data terasa kurang maksimal untuk sebuah bandwith Bluetooth yang cukup lebar. Oleh itu kemudian diadopsikan untuk mengantarkan audio berkualitas tinggi dari head unit (dan amplifier) ke speaker. Jadi sebenarnya teknologi yang diaplikasikan pada A2DP (Advance Audio Distribution Profile) adalah memanfaatkan bandwith pada layer data.

Pertanyaannya mengapa yang digunakan layer data, bukannya suara? Layer suara hanya memiliki bandwith sebesar 64 kbps. Bila digunakan tentu sangat mengurangi kualitas suara, bahkan akan banyak kehilangan interference. Bandingkan dengan layer data yang mencapai 723 kbps. Dengan bandwith selebar ini tentulah lebih memungkinkan untuk mengirim foto yang beresolusi tinggi, termasuk menjadi “jembatan” untuk audio bermutu tinggi.
Namun sekali lagi, bahwa Bluetooth seperti sifatnya yang menggunakan frekuensi radio jarak pendek, ia tetap punya keterbatasan. Jadi tak aneh bila dalam jarak lebih dari 10 meter umpamanya, sudah tak bisa bekerja optimal. Sound tiba-tiba terpotong, bahkan lagu tiba-tiba mati. Ini bukan kesalahan alat, tapi memang melebihi jangkauan.
Aplikasi A2DP tak hanya berlaku buat ponsel dan headset. Sony, menjelang akhir tahun lalu mengenalkan produk micro hi-fi yang memiliki kemampuan tersebut. Produk tersebut berseri CMT-U1BT. Perangkat Bluetooth-nya tidak built-in namun disediakan dalam bentuk dongle yang siap dikoneksikan ke berbagai peralatan seperti ponsel. Dengan demikian, ponsel menjadi head unit yang kemudian sound-nya disalurkan ke audio system ini dan menyembur lewat dua speakernya.


Perkembangan teknologi ini kemudian menciptakan para pabrikan audio untuk mengeluarkan berbagai fasilitas pendukung. Selain Sony, ada juga Bluesonic. Produk yang dikeluarkan memang tak selengkap Sony, karena hanya berupa speaker dock. Speakernya selain dilengkapi A2DP Bluetooth juga koneksi kabel dengan jack 2,5 mm.
Nokia yang telah menghasilkan beberapa ponsel dengan kemampuan A2DP, juga menyajikan headset stereo A2DP. Untuk melakukan koneksi, setiap alat harus melakukan pairing. Diperlukan kode khusus untuk hal ini.
Sekarang, juga bisa dinikmati, dongle Bluetooth yang berkaliber A2DP. Dengan dongle seperti ini memungkinkan untuk melakukan streaming lagu-lagu dari laptop atau PC ke spiker atau headset A2DP. Teknologi ini memang meringkas kabel sekaligus membuat koneksi yang lebih terbuka ke berbagai alat.
tulisan diambil dari simpatizone
teknologi bluetooth

Bluetooth adalah teknologi komunikasi wireless atau nirkabel yang beroperasi dalam pita frekuensi 2,4 GHz unlicensed ISM (Industrial, Scientific and Medical) dengan menggunakan sebuah frequency hopping tranceiver yang mampu menyediakan layanan komunikasi data dan suara secara real-time antara host-host bluetooth dengan jarak jangkauan layanan yang terbatas.
Bluetooth sendiri dapat berupa card yang bentuk dan fungsinya hampir sama dengan card yang digunakan untuk wireless local area network (WLAN) dimana menggunakan frekuensi radio standar IEEE 802.11, hanya saja pada bluetooth mempunyai jangkauan jarak yang lebih pendek dan kemampuan transfer data yang lebih rendah.
Pada dasarnya bluetooth diciptakan bukan hanya menggantikan kabel dalam melakukan pertukaran data, tetapi juga mampu menawarkan fitur yang baik untuk teknologi mobile wireless dengan biaya yang relatif rendah, konsumsi daya yang rendah, interoperability yang menjanjikan, mudah dalam pengoperasian dan mampu menyediakan layanan yang bermacam-macam.
Bluetooth memberikan solusi dan layanan yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Bluetooth merupakan teknologi yang berkembang sebagai jawaban atas kebutuhan komunikasi antar perlengkapan elektronik agar dapat saling mempertukarkan data dalam jarak yang terbatas menggunakan gelombang radio dengan frekuensi tertentu. Salah satu implementasi bluetooth yang populer adalah pada peralatan ponsel.
Perkembangan Sejarah Perangkat
Nama bluetooth berawal dari proyek prestisius yang dipromotori oleh perusahaan-perusahaan raksasa internasional yang bergerak di bidang telekomunikasi dan komputer, di antaranya Ericsson, IBM, Intel, Nokia, dan Toshiba.
Proyek ini di awal tahun 1998 dengan kode nama bluetooth, karena terinspirasi oleh seorang raja Viking (Denmark) yang bernama Harald Blatand. Raja Harald Blatand ini berkuasa pada abad ke-10 dengan menguasai sebagian besar daerah Denmark dan daerah Skandinavia pada masa itu. Dikarenakan daerah kekuasaannya yang luas, raja Harald Blatand ini membiayai para ilmuwan dan insinyur untuk membangun sebuah proyek berteknologi metamorfosis yang bertujuan untuk mengontrol pasukan dari suku-suku di daerah Skandinavia tersebut dari jarak jauh. Maka untuk menghormati ide raja Viking tersebut, yaitu Blatand yang berarti bluetooth (dalam bahasa Inggris) proyek ini diberi nama.
Berikut ini adalah table perkembangan teknologi Bluetooth :

Bluetooth menggunakan salah satu dari dua jenis frekuensi Spread Specturm Radio yang digunakan untuk kebutuhan wireless. Jenis frekuensi yang digunakan adalah Frequency Hopping Spread Spedtrum (FHSS), sedangkan yang satu lagi yaitu Direct Sequence Spread Spectrum (DSSS) digunakan oleh IEEE802.11xxx. Transceiver yang digunakan oleh bluetooth bekerja pada frekuensi 2,4 GHz unlicensed ISM (Industrial, Scientific, and Medical).
Pada beberapa negara terdapat perbedaan penggunaan frekuensi dan channel untuk Bluetooth ini. Seperti di Amerika dan Eropa, frekuensi yang digunakan adalah dari 2400–2483,5 yang berarti menggunakan 79 channel. Cara perhitungannya sebagai berikut : untuk RF Channel yang bekerja frekuensi f = 2402+k MHz, di mana k adalah jumlah channel yang digunakan yaitu : 0 sampai dengan 78 = 2402+79 = 2481 MHz. Kemudian ditambah dengan pengawal frekuensi yang diset pada 2 MHz sampai dengan 3,5 MHz untuk lebar pita gelombang 1 MHz, sehingga totalnya menjadi 2481+2,5 = 2483,5 MHz.
Cara Kerja Perangkat
Protokol bluetooth menggunakan sebuah kombinasi antara circuit switching dan packet switching. Bluetooth dapat mendukung sebuah kanal data asinkron, tiga kanal suara sinkron simultan atau sebuah kanal dimana secara bersamaan mendukung layanan data asinkron dan suara sinkron. Setiap kanal suara mendukung sebuah kanal suara sinkron 64 kb/s. Kanal asinkron dapat mendukung kecepatan maksimal 723,2 kb/s asimetris, dimana untuk arah sebaliknya dapat mendukung sampai dengan kecepatan 57,6 kb/s. Sedangkan untuk mode simetris dapat mendukung sampai dengan kecepatan 433,9 kb/s.
Sebuah perangkat yang memiliki teknologi wireless bluetooth akan mempunyai kemampuan untuk melakukan pertukaran informasi dengan jarak jangkauan sampai dengan 10 meter (~30 feet), bahkan untuk daya kelas 1 bisa sampai pada jarak 100 meter.
Sistem bluetooth terdiri dari sebuah radio transceiver, baseband link Management dan Control, Baseband (processor core, SRAM, UART, PCM USB Interface), flash dan voice code. sebuah link manager. Baseband link controller menghubungkan perangkat keras radio ke baseband processing dan layer protokol fisik. Link manager melakukan aktivitas-aktivitas protokol tingkat tinggi seperti melakukan link setup, autentikasi dan konfigurasi. Secara umum blok fungsional pada sistem bluetooth secara umum dapat dilihat pada Gambar 1 dibawah ini.

Gambar 1. Blok fungsional sistem bluetooth.

Gambar 2. Layer-layer pada sistem bluetooth.
Tiga buah lapisan fisik yang sangat penting dalam protokol arsitektur Bluetooth ini adalah :
1. Bluetooth radio, adalah lapis terendah dari spesifikasi Bluetooth. Lapis ini mendefinisikan persyaratan yang harus dipenuhi oleh perangkat tranceiver yang beroperasi pada frekuensi 2,4 GHz ISM.
2. Baseband, lapis yang memungkinkan hubungan RF terjadi antara beberapa unit Bluetooth membentuk piconet. Sistem RF dari bluetooth ini menggunakan frekuensi-hopping-spread spectrum yang mengirimkan data dalam bentuk paket pada time slot dan frekuensi yang telah ditentukan, lapis ini melakukan prosedur pemeriksaan dan paging untuk sinkronisasi transmisi frekuensi hopping dan clock dari perangkat bluetooth yang berbeda.
3. LMP, Link Manager Protocol, bertanggung jawab terhadap link set-up antar perangkat Bluetooth. Hal ini termasuk aspek securiti seperti autentifikasi dan enkripsi dengan pembangkitan, penukaran dan pemeriksaan ukuran paket dari lapis baseband.
Sistem Bluetooth bekerja pada frekuensi 2.402GHz sampai 2.480GHz, dengan 79 kanal RF yang masing-masing mempunyai spasi kanal selebar 1 MHz, menggunakan sistem TDD (Time-Division Duplex). Secara global alokasi frekuensi bluetooth telah tersedia, namun untuk berbagai negara pengalokasian frekuensi secara tepat dan lebar pita frekuensi yang digunakan berbeda. Penggunaan spektrum frekuensi 2.4 GHz secara global belum diatur. Namun ada beberapa persyaratan yang harus diikuti dalam penggunaannya. Hal ini meliputi :
Spektrum dibagi menjadi 79 kanal frekuensi (walaupun beberapa negara seperti Perancis dan Spanyol hanya menyediakan 23 kanal frekuensi saja).
1. Bandwidth dibatasi sampai 1 MHz per kanal.
2. Penggunaan frekuensi hopping dalam metode pengiriman datanya
3. Interferensi harus dapat diatasi dan ditangani dengan baik.
Komunikasi RF banyak menggunakan spektrum frekuensi ini, seperti HomeRF (sebuah spesifikasi untuk komunikasi RF dalam lingkungan perumahan); dan juga IEEE 802.11 juga menggunakan spektrum ini untuk spesifikasi dari teknologi Wireless LAN. Oven microwave juga beroperasi dalam range frekuensi ini, karena spektrum frekuensi ini belum dilisensikan, maka banyak teknologi yang menggunakannya, sehingga radio interferensi sangat memungkinkan untuk terjadi. Oleh karena itu persyaratan dan pengalamatan mutlak diperlukan bagi teknologi yang menggunakan spektrum 2.4 GHz ini.
Komunikasi bluetooth didesain untuk memberikan keuntungan yang optimal dari tersedianya spektrum ini dan mengurangi interferensi RF. Semuanya itu akan terjadi karena bluetooth beroperasi menggunakan level energi yang rendah.
Teknologi Masa Depan
Bluetooth merupakan teknologi yang berkembang sebagai jawaban atas kebutuhan komunikasi antar perlengkapan elektronik agar dapat saling mempertukarkan data dalam jarak yang terbatas menggunakan gelombang radio dengan frekuensi tertentu. Salah satu implementasi bluetooth yang populer adalah pada peralatan ponsel. Bluetooth adalah teknologi radio jarak pendek yang memberikan kemudahan konektivitas bagi peralatan-peralatan nirkabel.
Sistem bluetooth menyediakan layanan komunikasi point to point maupun komunikasi point to multipoint. Produk bluetooth dapat berupa PC card atau USB adapter yang dimasukkan ke dalam perangkat. Perangkat-perangkat yang dapat diintegerasikan dengan teknologi bluetooth antara lain : mobile PC, mobile phone, PDA (Personal Digital Assistant), headset, kamera digital, printer, router dan masih banyak peralatan lainnya. Aplikasiaplikasi yang dapat disediakan oleh layanan bluetooth ini antara lain : PC to PC file transfer, PC to PC file synch (notebook to desktop), PC to mobile phone, PC to PDA, wireless headset, LAN connection via ethernet access point dan sebagainya. Contoh modul aplikasi beberapa peralatan yang kemungkinan dapat menggunakan teknologi bluetooth dapat dilihat seperti Gambar 3 dibawah ini.

Gambar 3. Contoh modul aplikasi beberapa bluetooth.
artikel diambil dari tulisan Gun Gun Gunawan untuk materi kuliah umy jogja
Monday, May 19, 2008
Tutorial Instalasi & Konfigurasi Mikrotik
Tutorial ini membahas proses instalasi dan konfigurasi Mikrotik sebagai Server. MikroTik RouterOS™ adalah sistem operasi linux yang dapat digunakan untuk menjadikan komputer menjadi router network yang handal serta mencakup berbagai fitur yang dibuat untuk ip network dan jaringan wireless.
Spesifikasi perangkat minimal yang dibutuhkan yaitu:
a. CPU dan motherboard - bisa dgn P1 ~ P4, AMD, cyrix asal yang bukan multi-prosesor
b. RAM - minimum 32 MiB, maximum 1 GiB; 64 MiB atau lebih sangat dianjurkan, kalau mau dibuat proxy , dianjurkan 1GB… perbandingannya, 15MB di memori ada 1GB di proxy..
c. HDD minimal 128MB parallel ATA atau Compact Flash, tidak dianjurkan menggunakan UFD, SCSI, S-ATA
d. NIC 10/100 atau 100/1000
Untuk keperluan beban yang besar ( network yang kompleks, routing yang rumit dll) disarankan untuk
mempertimbangkan pemilihan resource PC yang memadai.
Untuk info lebih lengkap bisa dilihat di www.mikrotik.com Anda juga dapat mendownloadnya secara gratis disitus
tersebut namun hanya Free trial untuk 24 jam saja karena Mikrotik bukanlah free software, artinya kita harus membeli licensi terhadap segala fasiltas yang disediakan.
Kita bisa membeli software MikroTik dalam bentuk “licence” di CITRAWEB, UFOAKSES, PC24 yang diinstall pada HardDisk yang sebelumnya download/dibuat MikroTik RouterOS ISO ke keping CD atau disk on module (DOM). Jika kita membeli DOM tidak perlu install tetapi tinggal pasang DOM pada slot IDE PC kita.
Berikut adalah langkah-langkah instalasi Mikrotik melalui CD :
1. Setup BIOS agar dapat Booting melalui CD

Pilih CDROM pada bagian 1st Boot Device, setelah itu tekan tombol ESCAPE lalu tekan F10 dan pilih ‘Yes’

2. Masukkan CD instalasi Mikrotik setelah Loading maka akan muncul jendela awal instalasi seperti pada gambar di
bawah. Pilih semua paket instalasi menggunakan tombol panah dan tandai menggunakan tombol spasi [Space Bar], untuk mulai menginstall tekan huruf ‘i’

3. Tekan ‘y’ jika Anda ingin mempertahankan konfigurasi lama, jika ingin melakukan fresh install tekan ‘n’

4. Tekan ‘y’ untuk lanjut ke proses pembuatan partisi dan format Harddisk

5. Proses pembuatan partisi dan format Harddisk

6. Proses instalasi paket-paket yang telah dipilih sedang berlangsung

7. Proses instalasi selesai, tekan ENTER untuk reboot, jangan lupa mengeluarkan CD instalasi Mikrotiknya

8. Proses Loading untuk masuk ke sistem Mikrotik, tekan ‘y’ jika Anda ingin melakukan pengecekan pada Harddisk.

9. Jendela Login, isi Login dengan admin sedang Password dikosongkan saja, lalu tekan ENTER

10. Jika Anda berhasil Login maka akan muncul tampilan Prompt seperti pada gambar

Sebelum masuk ke proses konfigurasi, agar lebih mudah dipahami berikut saya gambarkan topologi jaringan sebagai contoh kasus yang kemudian akan kita implementasikan dalam bentuk konfigurasi Mikrotik. Ini sebagai contoh saja, aslinya Anda harus menyesuaikan dengan kondisi jaringan Anda sendiri.

Berdasar pada gambar topologi yang sudah dibuat, ada beberapa hal yang nantinya harus dilakukan, yaitu :
Menentukan IP Address untuk Interface Public dan Local pada Gateway Mikrotik, dimana Interface Public akan terkoneksi ke Jaringan Internet sedang Interface Local akan terkoneksi ke Jaringan Local.
Menentukan IP Address disetiap Client, sesuaikan seperti pada gambar topologi.
Menentukan Routing pada Gateway Mikrotik sehingga dirinya sendiri sudah harus bisa terkoneksi ke Internet.
Mengaktifkan NAT pada Gateway Mikrotik agar setiap Client dapat terkoneksi ke Internet.
Membatasi penggunaan bandwidth download dan upload untuk masing-masing Client, seperti terlihat pada gambar topologi.
Dari hal-hal yang kita lakukan di atas menjadi panduan bagi kita untuk menentukan apa saja yang harus kita kerjakan, berikut langkah demi langkah proses konfigurasinya :
1. Langkah-langkah konfigurasi IP Address Gateway Server Mikrotik
a. Karena Gateway Mikrotik akan menghubungkan area local dan area public maka pada PC Gateway sudah
harus terpasang minimal 2 buah Ethernet Card, dalam hal ini Interface Public dan Interface Local. Sebagai
langkah awal kita harus memastikan bahwa kedua interface telah dikenali oleh PC Gateway.
Untuk itu masuk ke sistem mikrotik setelah sebelumnya Login, lalu ketikkan perintah berikut pada prompt :
[admin@MikroTik] > interface ethernet print
Jika kedua interface terdeteksi maka akan tampil seperti terlihat pada gambar

b. Konfigurasi IP Address untuk kedua Interface

2. Konfigurasi IP Address Client-01, cara yang sama dilakukan pada Client-02 dan Client-03, yang berbeda
hanyalah IP Address yang diberikan.

3. Menentukan Routing Gateway Mikrotik agar bisa terkoneksi ke Internet
a. Untuk melakukan konfigurasi pada Gateway Mikrotik kali ini kita akan menggunakan Tools bawaan Mikrotik
sendiri yang bernama WINBOX, alasan utama menggunakan winbox karena aplikasi tersebut sudah
berbasis GUI sehingga lebih mudah dan telah berjalan di atas OS Windows. Cara memperoleh aplikasi
winbox yaitu dengan mendownloadnya dari Gateway Mikrotik via Web, untuk itu sebelumnya pastikan dulu
PC Client telah terkoneksi ke Gateway Mikrotik. Cara termudah untuk memastikan hal itu adalah dengan
melakukan tes PING dari Client ke Gateway Mikrotik, jika sudah ada pesan Reply berarti telah terkoneksi
dengan baik. Selanjutnya pada client yang menggunakan OS Windows, buka Internet Explorer atau
program Web Browser lainnya lalu pada Address ketikkan alamat IP dari Gateway Mikrotik.


b. Jalankan program winbox


c. Setting Routing ke Internet Gateway, lihat kembali gambar topologi jaringannya sebagai panduan.

4. Mengaktifkan NAT pada Gateway Mikrotik agar setiap Client dapat terkoneksi ke Internet.
a. Buka Jendela Firewall, lalu buka buka table NAT.

b. Masukkan IP Address Client dalam aturan NAT agar Client dapat mengakses Internet.

Ulangi langkah di atas untuk Client-02 dan Client-03.
c. Tampilan tabel NAT seharusnya akan tampak seperti gambar berikut.

Pada tahapan ini seharusnya semua Client sudah bisa terkoneksi ke Internet.
5. Membatasi penggunaan bandwidth untuk masing-masing Client tidak ada satupun Client yang akan memonopoli
penggunaan bandwidth. Kita akan menggunakan metode “Queue Tree” untuk membatasi penggunaan
bandwidth pada Client. Karena dengan metode Queue Tree kita akan lebih leluasa dalam menerapkan aturanaturan dalam pembatasan bandwidth, tidak demikian jika kita menggunakan metode “Simple Queue”.
a. Langkah pertama kita harus membuat aturan di Firewall pada tabel MANGLE, untuk memberikan tanda
“mark” pada paket-paket yang masuk dan keluar dari Gateway Mikrotik ke masing-masing Client.

Gambar sebelumnya merupakan langkah untuk membuat ‘Mark Connection’ atau penanda koneksi, langkah selajutnya masih merupakan lanjutan dari langkah sebelumnya, namun kali ini kita akan membuat ‘Mark Packet’ atau penanda paket, silahkan ikuti langkah-langkah seperti pada gambar.
Langkah pertama diawali dengan meng-klik tanda ‘+’ pada Tab Mangle, seperti ditunjukkan pada langkah ke-4 pada gambar sebelumnya

Ulangi langkah pembuatan ‘Mark Connection’ dan ‘Mark Packet’ untuk Client-02 dan Client-03, yang
berbeda hanya pada bagian : Src. Address, New Connection Mark dan New Packet Mark yang
nantinya disesuaikan dengan Client-02 dan Client-03. Hasil akhirnya seperti pada gambar di bawah :

b. Konfigurasi ‘Queue Tree’, untuk besar bandwidth download dan upload untuk masing-masing Client
silahkan lihat kembali gambar topologi jaringan.
Pengaturan bandwidth download untuk Client-01

Pengaturan bandwidth upload untuk Client-01

Lakukan langkah yang sama untuk mengatur bandwidth download dan upload untuk Client-02 dan Client-03. Bagian yang berbeda hanya pada : Name, Packet Mark, Limit at dan Max Limit.
Tampilan Akhir pengaturan bandwidth untuk masing-masing Client akan terlihat seperti pada gambar berikut :

Gambar di atas juga nantinya akan dimanfaatkan untuk memantau penggunaan bandwidth Download dan Upload pada masing-masing Client.
di tulis oleh Robi Kasamuddin dan di kutip dari oke.or.id
Spesifikasi perangkat minimal yang dibutuhkan yaitu:
a. CPU dan motherboard - bisa dgn P1 ~ P4, AMD, cyrix asal yang bukan multi-prosesor
b. RAM - minimum 32 MiB, maximum 1 GiB; 64 MiB atau lebih sangat dianjurkan, kalau mau dibuat proxy , dianjurkan 1GB… perbandingannya, 15MB di memori ada 1GB di proxy..
c. HDD minimal 128MB parallel ATA atau Compact Flash, tidak dianjurkan menggunakan UFD, SCSI, S-ATA
d. NIC 10/100 atau 100/1000
Untuk keperluan beban yang besar ( network yang kompleks, routing yang rumit dll) disarankan untuk
mempertimbangkan pemilihan resource PC yang memadai.
Untuk info lebih lengkap bisa dilihat di www.mikrotik.com Anda juga dapat mendownloadnya secara gratis disitus
tersebut namun hanya Free trial untuk 24 jam saja karena Mikrotik bukanlah free software, artinya kita harus membeli licensi terhadap segala fasiltas yang disediakan.
Kita bisa membeli software MikroTik dalam bentuk “licence” di CITRAWEB, UFOAKSES, PC24 yang diinstall pada HardDisk yang sebelumnya download/dibuat MikroTik RouterOS ISO ke keping CD atau disk on module (DOM). Jika kita membeli DOM tidak perlu install tetapi tinggal pasang DOM pada slot IDE PC kita.
Berikut adalah langkah-langkah instalasi Mikrotik melalui CD :
1. Setup BIOS agar dapat Booting melalui CD

Pilih CDROM pada bagian 1st Boot Device, setelah itu tekan tombol ESCAPE lalu tekan F10 dan pilih ‘Yes’

2. Masukkan CD instalasi Mikrotik setelah Loading maka akan muncul jendela awal instalasi seperti pada gambar di
bawah. Pilih semua paket instalasi menggunakan tombol panah dan tandai menggunakan tombol spasi [Space Bar], untuk mulai menginstall tekan huruf ‘i’

3. Tekan ‘y’ jika Anda ingin mempertahankan konfigurasi lama, jika ingin melakukan fresh install tekan ‘n’

4. Tekan ‘y’ untuk lanjut ke proses pembuatan partisi dan format Harddisk

5. Proses pembuatan partisi dan format Harddisk

6. Proses instalasi paket-paket yang telah dipilih sedang berlangsung

7. Proses instalasi selesai, tekan ENTER untuk reboot, jangan lupa mengeluarkan CD instalasi Mikrotiknya

8. Proses Loading untuk masuk ke sistem Mikrotik, tekan ‘y’ jika Anda ingin melakukan pengecekan pada Harddisk.

9. Jendela Login, isi Login dengan admin sedang Password dikosongkan saja, lalu tekan ENTER

10. Jika Anda berhasil Login maka akan muncul tampilan Prompt seperti pada gambar

Sebelum masuk ke proses konfigurasi, agar lebih mudah dipahami berikut saya gambarkan topologi jaringan sebagai contoh kasus yang kemudian akan kita implementasikan dalam bentuk konfigurasi Mikrotik. Ini sebagai contoh saja, aslinya Anda harus menyesuaikan dengan kondisi jaringan Anda sendiri.

Berdasar pada gambar topologi yang sudah dibuat, ada beberapa hal yang nantinya harus dilakukan, yaitu :
Menentukan IP Address untuk Interface Public dan Local pada Gateway Mikrotik, dimana Interface Public akan terkoneksi ke Jaringan Internet sedang Interface Local akan terkoneksi ke Jaringan Local.
Menentukan IP Address disetiap Client, sesuaikan seperti pada gambar topologi.
Menentukan Routing pada Gateway Mikrotik sehingga dirinya sendiri sudah harus bisa terkoneksi ke Internet.
Mengaktifkan NAT pada Gateway Mikrotik agar setiap Client dapat terkoneksi ke Internet.
Membatasi penggunaan bandwidth download dan upload untuk masing-masing Client, seperti terlihat pada gambar topologi.
Dari hal-hal yang kita lakukan di atas menjadi panduan bagi kita untuk menentukan apa saja yang harus kita kerjakan, berikut langkah demi langkah proses konfigurasinya :
1. Langkah-langkah konfigurasi IP Address Gateway Server Mikrotik
a. Karena Gateway Mikrotik akan menghubungkan area local dan area public maka pada PC Gateway sudah
harus terpasang minimal 2 buah Ethernet Card, dalam hal ini Interface Public dan Interface Local. Sebagai
langkah awal kita harus memastikan bahwa kedua interface telah dikenali oleh PC Gateway.
Untuk itu masuk ke sistem mikrotik setelah sebelumnya Login, lalu ketikkan perintah berikut pada prompt :
[admin@MikroTik] > interface ethernet print
Jika kedua interface terdeteksi maka akan tampil seperti terlihat pada gambar

b. Konfigurasi IP Address untuk kedua Interface

2. Konfigurasi IP Address Client-01, cara yang sama dilakukan pada Client-02 dan Client-03, yang berbeda
hanyalah IP Address yang diberikan.

3. Menentukan Routing Gateway Mikrotik agar bisa terkoneksi ke Internet
a. Untuk melakukan konfigurasi pada Gateway Mikrotik kali ini kita akan menggunakan Tools bawaan Mikrotik
sendiri yang bernama WINBOX, alasan utama menggunakan winbox karena aplikasi tersebut sudah
berbasis GUI sehingga lebih mudah dan telah berjalan di atas OS Windows. Cara memperoleh aplikasi
winbox yaitu dengan mendownloadnya dari Gateway Mikrotik via Web, untuk itu sebelumnya pastikan dulu
PC Client telah terkoneksi ke Gateway Mikrotik. Cara termudah untuk memastikan hal itu adalah dengan
melakukan tes PING dari Client ke Gateway Mikrotik, jika sudah ada pesan Reply berarti telah terkoneksi
dengan baik. Selanjutnya pada client yang menggunakan OS Windows, buka Internet Explorer atau
program Web Browser lainnya lalu pada Address ketikkan alamat IP dari Gateway Mikrotik.


b. Jalankan program winbox


c. Setting Routing ke Internet Gateway, lihat kembali gambar topologi jaringannya sebagai panduan.

4. Mengaktifkan NAT pada Gateway Mikrotik agar setiap Client dapat terkoneksi ke Internet.
a. Buka Jendela Firewall, lalu buka buka table NAT.

b. Masukkan IP Address Client dalam aturan NAT agar Client dapat mengakses Internet.

Ulangi langkah di atas untuk Client-02 dan Client-03.
c. Tampilan tabel NAT seharusnya akan tampak seperti gambar berikut.

Pada tahapan ini seharusnya semua Client sudah bisa terkoneksi ke Internet.
5. Membatasi penggunaan bandwidth untuk masing-masing Client tidak ada satupun Client yang akan memonopoli
penggunaan bandwidth. Kita akan menggunakan metode “Queue Tree” untuk membatasi penggunaan
bandwidth pada Client. Karena dengan metode Queue Tree kita akan lebih leluasa dalam menerapkan aturanaturan dalam pembatasan bandwidth, tidak demikian jika kita menggunakan metode “Simple Queue”.
a. Langkah pertama kita harus membuat aturan di Firewall pada tabel MANGLE, untuk memberikan tanda
“mark” pada paket-paket yang masuk dan keluar dari Gateway Mikrotik ke masing-masing Client.

Gambar sebelumnya merupakan langkah untuk membuat ‘Mark Connection’ atau penanda koneksi, langkah selajutnya masih merupakan lanjutan dari langkah sebelumnya, namun kali ini kita akan membuat ‘Mark Packet’ atau penanda paket, silahkan ikuti langkah-langkah seperti pada gambar.
Langkah pertama diawali dengan meng-klik tanda ‘+’ pada Tab Mangle, seperti ditunjukkan pada langkah ke-4 pada gambar sebelumnya

Ulangi langkah pembuatan ‘Mark Connection’ dan ‘Mark Packet’ untuk Client-02 dan Client-03, yang
berbeda hanya pada bagian : Src. Address, New Connection Mark dan New Packet Mark yang
nantinya disesuaikan dengan Client-02 dan Client-03. Hasil akhirnya seperti pada gambar di bawah :

b. Konfigurasi ‘Queue Tree’, untuk besar bandwidth download dan upload untuk masing-masing Client
silahkan lihat kembali gambar topologi jaringan.
Pengaturan bandwidth download untuk Client-01

Pengaturan bandwidth upload untuk Client-01

Lakukan langkah yang sama untuk mengatur bandwidth download dan upload untuk Client-02 dan Client-03. Bagian yang berbeda hanya pada : Name, Packet Mark, Limit at dan Max Limit.
Tampilan Akhir pengaturan bandwidth untuk masing-masing Client akan terlihat seperti pada gambar berikut :

Gambar di atas juga nantinya akan dimanfaatkan untuk memantau penggunaan bandwidth Download dan Upload pada masing-masing Client.
di tulis oleh Robi Kasamuddin dan di kutip dari oke.or.id
Subscribe to:
Comments (Atom)
